joomla counter
kebaya pengantin nenglina
Home
kebaya pengantin nenglina
Kebaya Pengantin NengLina
Written by Administrator   
Friday, 08 March 2013 00:00

 

Mewarisi Usaha Nenek

Di tangan yang tepat, sebuah usaha keluarga bukan hanya mampu bertahan tetapi juga dapat berkembang dengan pesat.

Kalau kebaya dulu terkesan tradisional dan kuno, kebaya di tahun 2000-an tampil semakin modern dan anggun. Tak dapat dipungkuri, mulai banyak orang yang mengenakan kebaya untuk berbagai keperluan, mulai dari yang formal hingga kasual. Perkembangan kebaya di tanah air yang demikian pesat ini mengusik hati kecil Arif Susanto. Mengapa ia tidak mengkhususkan diri untuk mendesain kebaya?

Ketika mewarisi usaha keluarganya di tahun 2003, belum banyak desainer kebaya di Indonesia. Arif memutuskan untuk menekuni kebaya, mendesain kebaya untuk negara sendiri. "Kebaya itu pakaian asli Indonesia, jangan sampai tidak dikembangkan di negara sendiri, malah nanti diakui di negara orang," ujar Arif mengenang keputusannya saat itu.

Jatuh bangun belajar mendesain kebaya secara otodidak, Arif akhirnya berhasil menembus bukan saja pasar nasional, melainkan juga internasional. Kebaya yang didesainnya tak hanya dikenakan perias pengantin Indonesia tetapi juga Malaysia.

Pesanan yang Tak Terbeli

Pengalaman pahit tetapi lucu juga pernah dialami Arif dengan salah satu pembeli negeri jiran. Suatu ketika seseorang datang memesan sepuluh desain kebaya. Menurut Arif, desain yang dibawa tersebut sangat tidak menarik. “Ingin kebaya warna hitam, dengan payet warna biru dongker, atau kuning ngejreng. Saya mulai kaget. Tapi dia sendiri keukeuh,” cerita Arif dengan logat Sunda yang kental, “Begitu saya mulai potong bahan dan jahit, hampir semua pegawai saya menertawakan.” Tapi, karena custom order, Arif memutuskan untuk melanjutkan.

Ketika harinya tiba, si pemesan menolak mentah-mentah kebaya buatan Arif. Padahal, kebaya itu sudah sesuai dengan pesanan semula. “Orang tersebut tidak mau mengambil pesanannya. Dia lebih baik kehilangan uang muka daripada membawa baju yang tidak disukai,” kenang Arif getir.

Tak disangka, orang yang sama datang lagi bulan berikutnya dengan membawa sepuluh desain. Arif tetap menerima gambar tersebut, tetapi ketika membuat, ia berkreasi sesuai pemikirannya.

Ketika si pemesan datang untuk mengambil kebayanya, Arif justru memamerkan desain kebaya terbarunya, yang notabene adalah kebaya pesanan orang tersebut. Tentu, karena bentuknya sudah berbeda, si pemesan tak lagi mengenali. Ketika ia meminta barangnya, Arif dengan ringan berkata bahwa ia tidak membuatkan pesanan tersebut.

Karuan saja si pemesan marah. Arif kemudian menjelaskan bahwa kesepuluh baju yang dilihat sebelumnya adalah desain dari si pemesan yang sudah diubah menurut selera Arif. Apakah kesepuluh kebaya tadi mau diambil atau tidak, Arif menyerahkan keputusannya kepada si pemesan.

Sesuai dugaan, si pemesan tidak mau. Ia meninggalkan butik tanpa membeli. Keesokan paginya, masih pukul 6 pagi, ia menelepon untuk membeli semua kebaya yang dilihatnya kemarin. Ia minta toko dibuka lebih pagi karena akan kembali ke Malaysia. Kini, giliran Arif yang bersikukuh. “Toko saya buka jam 9, silakan datang,” katanya kepada si pemesan. Meskipun orang tersebut menjelaskan macam-macam, Arif tetap pada pendirian, dan akhirnya ia datang pukul 9.

Apakah lantas orang tersebut kapok membeli di Arif? Ternyata tidak. Apa yang Arif lakukan memang agar kebaya Indonesia, karya anak Indonesia, dihargai oleh orang. “Sampai sekarang alhamdulillah, orang tersebut masih menjadi pelanggan saya,” ujarnya.

Trendsetter di Negeri Orang

Keberhasilan yang diraih Arif, diakuinya memang belum seberapa. Ia merasa masih harus banyak belajar terutama jika ingin memperluas usahanya ke negara lain. Apa yang menjadi tren kebaya di Indonesia, belum tentu dikenal di negara tetangga. Karenanya, tak jarang yang menolak kebaya Arif.

Tetapi Arif tidak pernah putus asa. Apalagi ketika akhirnya si pelanggan dari negara tetangga akhirnya memesan kebaya yang pernah ditawarkan Arif. Ternyata, beberapa bulan kemudian mereka baru mengenal model kebaya Arif. "Perias yang akhirnya memesan kebaya saya itu sekarang menjadi langganan. Dia senang karena dengan kebaya saya ia menjadi trendsetter di negaranya. Kebaya apa pun yang dipesannya dari saya, akan segera dikenal di sana," urainya panjang lebar.

Keunikan kebaya Arif memang tampak jelas: bordirannya tebal, payetnya cukup banyak, dan pemilihan warna yang berani. Meskipun ada beberapa koleksi yang disiapkan jika pembeli tidak mau repot, kebanyakan Arif melayani kebaya yang dipesan secara khusus. Untuk itu diperlukan waktu sekitar 3 bulan.

Dengan 160 ornag pekerja, Arif dapat menghasilkan sekitar 20-30 kebaya setiap bulannya. Khusus payet, biasanya dikerjakan di rumah karena pekerjanya merasa lebih nyaman dan bisa bekerja tanpa batasan waktu. Beberapa pegawainya ada yang sudah bersama Neng Lina sejak masih dipegang nenek Arif. “Alhamdulillah, dari bekerja di sini beliau sudah bisa umroh dan naik haji,” ucapnya penuh syukur.

Menurut Arif, penting bagi orang Indonesia untuk bangga dengan kebaya. “Dari semua orang Malaysia yang pernah memesan kebaya di saya, sekitar 90% membawa majalah dari Indonesia,” tuturnya. Di negeri orang, kebaya bisa dibuat seperti gamis. Di negeri sendiri, kebaya bisa dikenakan oleh berbagai suku dan mewakili berbagai adat istiadat. Bangga dengan kebaya dan Indonesia? Harus, dong.

 

Amanda Setiorini

 

Last Updated on Thursday, 20 February 2014 23:56
 
BERITA KEBAYA
Friday, 21 February 2014 00:00

Koleksi kebaya Neng Lina 2014 sudah ada di cover depan Majalah Perkawinan.

Silakan dilihat koleksi kami yang terbaru.... desain kebaya warna merah dengan perpaduan klasik modern

di rancang oleh Arif Susanto

 

 

 
TEMAN TEMAN
Thursday, 07 March 2013 00:00

Teman Teman

 
Jadwal Terkini

Pemotretan dengan TELKOM , Commove Agency  30/3/2014

 

Pemilihan Mojang jajaka Jawa Barat 2012

Banner